Advertisement

Jumat, 30 Oktober 2015


Rabu, 02 Juli 2014

tip berpuasa

Selama bulan suci Ramadhan, umat muslim diwajibkan untuk berpuasa tidak makan dan minum dari terbit fajar hingga tenggelam matahari.

Pada saat menjalankan ibadah puasa banyak dijadikan alasan untuk tidak bekerja secara maksimal karena lemas, lesu, mengantuk dan sebagainya sehingga berakibat terhadap menurunnya produktivitas kerja sehari-hari.

Kondisi itu karena timbul akibat perilaku yang tidak sehat yang dilakukan tanpa sadar dan menjadi kebiasaan selama berpuasa, seperti kebiasaan makan sahur yang banyak, makan yang berlebihan pada saat berbuka, kurangnya konsumsi buah-buahan dan sayuran, tidur seharian sampai tidak berolahraga.

Untuk menghindari kebiasaan kurang sehat tersebut, perlu pengaturan makan dan minum pada saat sahur atau berbuka puasa, agar tubuh kita tetap sehat dan segar sepanjang hari selama berpuasa.

Berikut ini beberapa tips khusus saat sahur dan berbuka puasa agar tubuh kita tetap sehat dan segar selama bulan puasa sehingga terhindar dari kebiasaan yang kurang sehat:

Saat Sahur:

• Jangan lupa selalu mengkonsumsi makanan bergizi baik pada saat sahur atau berbuka puasa. Walau menu sederhana, yang penting mengandung lima unsur gizi lengkap seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. saat berpuasa bahan makanan penghasil energi utama seperti karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan protein yang masuk ke tubuh kita relatif tidak sebanyak hari-hari biasa.

• Agar Anda mampu menahan rasa lapar, perbanyaklah mengkonsumsi jenis makanan berserat yang banyak terdapat dalam sayur dan buah. Tubuh kita memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna makanan yang banyak mengandung serat.

• Upayakan untuk mencegah dehidrasi tubuh dengan banyak minum air putih pada malam hari. Hal ini penting dilakukan, karena pada siang hari aktivitas kita cenderung banyak mengeluarkan keringat baik di luar ruangan atau ruang ber-AC.

• Selain memperbanyak makanan berserat dan makanan yang mengandung protein, sebaiknya Anda juga menyediakan jenis makanan yang mengandung vitamin dan mineral serta makanan tambahan agar tubuh tetap segar bugar sepanjang hari.

• Vitamin yang penting dikonsumsi setiap hari adalah vitamin A, B, dan C. Tapi kalau Anda sudah makan buah berwarna kuning atau merah, sayur berwarna hijau tua, kacang-kacangan, maka tak perlu khawatir kekurangan vitamin tersebut.

• Bagi penderita sakit lambung makanan yang sebaiknya dihindari adalah ketan, mie, daging berlemak, ikan dan daging yang diawetkan, sayuran mentah, sayuran berserat, minuman yang mengandung soda, dan bumbu yang tajam (cuka, cabai, asam). Jenis makanan tersebut bisa menimbulkan gas yang berpengaruh meningkatkan produksi asam lambung.

• Setelah makan sahur jangan langsung tidur. Tubuh memerlukan waktu untuk mencerna makanan.

Saat Berbuka:

• Jangan langsung minum air dingin atau es, sebaliknya biasakanlah berbuka dengan minuman yang hangat. Perut yang kosong bisa menjadi kembung, bila Anda langsung berbuka puasa dengan air dingin, karena asam lambung dalam tubuh kita akan terbentuk semakin banyak.

• Kemudian beristirahatlah kurang lebih satu jam sebelum menyantap hidangan berbuka yang telah dihidangkan. Tujuannya untuk memberikan keseimbangan terlebih dahulu pada pencernaan kita. Ingat, jangan mengkonsumsi makanan berlebihan dan makanan asinan.

• Berbuka puasa hendaknya dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru agar lambung tidak “kaget”. Dengan demikian kerja lambung tidak terlampau berat karena lambung membutuhkan ruangan kosong untuk mencerna makanan. Untuk meringankan kerja pencernaan, kunyah makanan dengan baik.

• Bagi mereka yang berat badannya melebihi berat badan ideal, sebaiknya selama berpuasa pun tetap menghindari makanan yang tinggi kolesterolnya, misalnya lemak hewan, margarin, mentega. Selain itu, sebaiknya Anda menghindari makanan yang manis-manis, seperti dodol, sirup, cokelat, kue tar, es krim. “Selain lebih banyak mengkonsumsi sayur, buah, dan daging tanpa lemak, pengolahan makanannya pun sebaiknya jangan digoreng.”

• Sedang bagi mereka yang terlalu kurus, selama berpuasa sebaiknya menambah porsi susunya dan menghindari makanan yang sulit dicerna seperti sayuran berserat kasar (daun singkong, daun pepaya).

• Bagi mereka yang berusia lanjut, aturlah pola makan saat berbuka puasa juga secara bertahap. Makanlah jumlah yang lebih sedikit, namun dilakukan beberapa kali.

• Setelah berbuka puasa jangan langsung tidur. Tubuh memerlukan waktu untuk mencerna makanan.

Jika ini dilakukan Insya Allah tubuh anda sehat dan segar selama menjalankan ibadah Puasa.

ALHAMDULILAH

Selasa, 01 Juli 2014

Kamis, 06 Februari 2014

dokumen saya

ilmu pabrikasi kontruksi baja

Radiograph Interpretation - Castings
The major objective of radiographic testing of castings is the disclosure of defects that adversely affect the strength of the product. Castings are a product form that often receive radiographic inspection since many of the defects produced by the casting process are volumetric in nature, and are thus relatively easy to detect with this method. These discontinuities of course, are related to casting process deficiencies, which, if properly understood, can lead to accurate accept-reject decisions as well as to suitable corrective measures. Since different types and sizes of defects have different effects of the performance of the casting, it is important that the radiographer is able to identify the type and size of the defects. ASTM E155, Standard for Radiographs of castings has been produced to help the radiographer make a better assessment of the defects found in components. The castings used to produce the standard radiographs have been destructively analyzed to confirm the size and type of discontinuities present. The following is a brief description of the most common discontinuity types included in existing reference radiograph documents (in graded types or as single illustrations).
RADIOGRAPHIC INDICATIONS FOR CASTINGS
Gas porosity or blow holes are caused by accumulated gas or air which is trapped by the metal. These discontinuities are usually smooth-walled rounded cavities of a spherical, elongated or flattened shape. If the sprue is not high enough to provide the necessary heat transfer needed to force the gas or air out of the mold, the gas or air will be trapped as the molten metal begins to solidify. Blows can also be caused by sand that is too fine, too wet, or by sand that has a low permeability so that gas cannot escape. Too high a moisture content in the sand makes it difficult to carry the excessive volumes of water vapor away from the casting. Another cause of blows can be attributed to using green ladles, rusty or damp chills and chaplets.
Sand inclusions and dross are nonmetallic oxides, which appear on the radiograph as irregular, dark blotches. These come from disintegrated portions of mold or core walls and/or from oxides (formed in the melt) which have not been skimmed off prior to the introduction of the metal into the mold gates. Careful control of the melt, proper holding time in the ladle and skimming of the melt during pouring will minimize or obviate this source of trouble.
Shrinkage is a form of discontinuity that appears as dark spots on the radiograph. Shrinkage assumes various forms, but in all cases it occurs because molten metal shrinks as it solidifies, in all portions of the final casting. Shrinkage is avoided by making sure that the volume of the casting is adequately fed by risers which sacrificially retain the shrinkage. Shrinkage in its various forms can be recognized by a number of characteristics on radiographs. There are at least four types of shrinkage: (1) cavity; (2) dendritic; (3) filamentary; and (4) sponge types. Some documents designate these types by numbers, without actual names, to avoid possible misunderstanding.
Cavity shrinkage appears as areas with distinct jagged boundaries. It may be produced when metal solidifies between two original streams of melt coming from opposite directions to join a common front. Cavity shrinkage usually occurs at a time when the melt has almost reached solidification temperature and there is no source of supplementary liquid to feed possible cavities.


Dendritic shrinkage is a distribution of very fine lines or small elongated cavities that may vary in density and are usually unconnected.
Filamentary shrinkage usually occurs as a continuous structure of connected lines or branches of variable length, width and density, or occasionally as a network.


Sponge shrinkage shows itself as areas of lacy texture with diffuse outlines, generally toward the mid-thickness of heavier casting sections. Sponge shrinkage may be dendritic or filamentary shrinkage. Filamentary sponge shrinkage appears more blurred because it is projected through the relatively thick coating between the discontinuities and the film surface.


Cracks are thin (straight or jagged) linearly disposed discontinuities that occur after the melt has solidified. They generally appear singly and originate at casting surfaces.
Cold shuts generally appear on or near a surface of cast metal as a result of two streams of liquid meeting and failing to unite. They may appear on a radiograph as cracks or seams with smooth or rounded edges.



Inclusions are nonmetallic materials in an otherwise solid metallic matrix. They may be less or more dense than the matrix alloy and will appear on the radiograph, respectively, as darker or lighter indications. The latter type is more common in light metal castings.




Core shift shows itself as a variation in section thickness, usually on radiographic views representing diametrically opposite portions of cylindrical casting portions.






Hot tears are linearly disposed indications that represent fractures formed in a metal during solidification because of hindered contraction. The latter may occur due to overly hard (completely unyielding) mold or core walls. The effect of hot tears as a stress concentration is similar to that of an ordinary crack, and hot tears are usually systematic flaws. If flaws are identified as hot tears in larger runs of a casting type, explicit improvements in the casting technique will be required.
Misruns appear on the radiograph as prominent dense areas of variable dimensions with a definite smooth outline. They are mostly random in occurrence and not readily eliminated by specific remedial actions in the process.
Mottling is a radiographic indication that appears as an indistinct area of more or less dense images. The condition is a diffraction effect that occurs on relatively vague, thin-section radiographs, most often with austenitic stainless steel. Mottling is caused by interaction of the object's grain boundary material with low-energy X-rays (300 kV or lower). Inexperienced interpreters may incorrectly consider mottling as indications of unacceptable casting flaws. Even experienced interpreters often have to check the condition by re-radiography from slightly different source-film angles. Shifts in mottling are then very pronounced, while true casting discontinuities change only slightly in appearance.

Radiographic Indications for Casting Repair Welds
Most common alloy castings require welding either in upgrading from defective conditions or in joining to other system parts. It is mainly for reasons of casting repair that these descriptions of the more common weld defects are provided here. The terms appear as indication types in ASTM E390. For additional information, see the Nondestructive Testing Handbook, Volume 3, Section 9 on the "Radiographic Control of Welds."
Slag is nonmetallic solid material entrapped in weld metal or between weld material and base metal. Radiographically, slag may appear in various shapes, from long narrow indications to short wide indications, and in various densities, from gray to very dark.
Porosity is a series of rounded gas pockets or voids in the weld metal, and is generally cylindrical or elliptical in shape.
Undercut is a groove melted in the base metal at the edge of a weld and left unfilled by weld metal. It represents a stress concentration that often must be corrected, and appears as a dark indication at the toe of a weld.
Incomplete penetration, as the name implies, is a lack of weld penetration through the thickness of the joint (or penetration which is less than specified). It is located at the center of a weld and is a wide, linear indication.
Incomplete fusion is lack of complete fusion of some portions of the metal in a weld joint with adjacent metal (either base or previously deposited weld metal). On a radiograph, this appears as a long, sharp linear indication, occurring at the centerline of the weld joint or at the fusion line.
Melt-through is a convex or concave irregularity (on the surface of backing ring, strip, fused root or adjacent base metal) resulting from the complete melting of a localized region but without the development of a void or open hole. On a radiograph, melt-through generally appears as a round or elliptical indication.
Burn-through is a void or open hole in a backing ring, strip, fused root or adjacent base metal.
Arc strike is an indication from a localized heat-affected zone or a change in surface contour of a finished weld or adjacent base metal. Arc strikes are caused by the heat generated when electrical energy passes between the surfaces of the finished weld or base metal and the current source.
Weld spatter occurs in arc or gas welding as metal particles which are expelled during welding. These particles do not form part of the actual weld. Weld spatter appears as many small, light cylindrical indications on a radiograph.
Tungsten inclusion is usually denser than base-metal particles. Tungsten inclusions appear very light radiographic images.  Accept/reject decisions for this defect are generally based on the slag criteria.
Oxidation is the condition of a surface which is heated during welding, resulting in oxide formation on the surface, due to partial or complete lack of purge of the weld atmosphere. The condition is also called sugaring.
Root edge condition shows the penetration of weld metal into the backing ring or into the clearance between the backing ring or strip and the base metal. It appears in radiographs as a sharply defined film density transition.
Root undercut appears as an intermittent or continuous groove in the internal surface of the base metal, backing ring or strip along the edge of the weld root.
Radiographic Density
Photographic, radiographic or film density is a measure of the degree of film darkening.  Technically it should be called "transmitted density" when associated with transparent-base film since it is a measure of the light transmitted through the film. Density is a logarithmic unit that describes a ratio of two measurements. Specifically, it is the log of the intensity of light incident on the film (I0) to the intensity of light transmitted through the film (It).
Similar to the decibel, using the log of the ratio allows ratios of various sizes to be described using easy to work with numbers. The following table shows the relationship between the amount of transmitted light and the calculated film density.
Transmittance
(I0/It)
Percent Transmittance
Film Density
Log(I0/It)
1.0
100%
0
0.1
10%
1
0.01
1%
2
0.001
0.1%
3
0.0001
0.01%
4
0.00001
0.001%
5
0.000001
0.0001%
6
0.0000001
0.00001%
7
From this table, it can be seen that a density reading of 2.0 is the result of only one percent of the incident light making it through the film. At a density of 4.0 only 0.01% of transmitted light reaches the far side of the film. Industrial codes and standards typically require a radiograph to have a density between 2.0 and 4.0 for acceptable viewing with common film viewers. Above 4.0, extremely bright viewing lights is necessary for evaluation. Contrast within a film increases with increasing density, so in general the higher the density the better. When radiographs will be digitized, densities above 4.0 are often used since digitization systems can capture and redisplay for easy viewing information from densities up to 6.0.
Film density is measured with a densitometer. A densitometer simply has a photoelectric sensor that measures the amount of light transmitted through a piece of film. The film is placed between the light source and the sensor and a density reading is produced by the instrument
Radiographic Contrast
As mentioned on the previous page, radiographic contrast describes the differences in photographic density in a radiograph. The contrast between different parts of the image is what forms the image and the greater the contrast, the more visible features become. Radiographic contrast has two main contributors: subject contrast and detector (film) contrast.
Subject Contrast
Subject contrast is the ratio of radiation intensities transmitted through different areas of the component being evaluated. It is dependant on the absorption differences in the component, the wavelength of the primary radiation, and intensity and distribution of secondary radiation due to scattering.

It should be no surprise that absorption differences within the subject will affect the level of contrast in a radiograph. The larger the difference in thickness or density between two areas of the subject, the larger the difference in radiographic density or contrast. However, it is also possible to radiograph a particular subject and produce two radiographs having entirely different contrast levels. Generating x-rays using a low kilovoltage will generally result in a radiograph with high contrast. This occurs because low energy radiation is more easily attenuated. Therefore, the ratio of photons that are transmitted through a thick and thin area will be greater with low energy radiation. This in turn will result in the film being exposed to a greater and lesser degree in the two areas.
There is a tradeoff, however. Generally, as contrast sensitivity increases, the latitude of the radiograph decreases.  Radiographic latitude refers to the range of material thickness that can be imaged This means that more areas of different thicknesses will be visible in the image. Therefore, the goal is to balance radiographic contrast and latitude so that there is enough contrast to identify the features of interest but also to make sure the latitude is great enough so that all areas of interest can be inspected with one radiograph. In thick parts with a large range of thicknesses, multiple radiographs will likely be necessary to get the necessary density levels in all areas.
Film Contrast
Film contrast refers to density differences that result due to the type of film used, how it was exposed, and how it was processed. Since there are other detectors besides film, this could be called detector contrast, but the focus here will be on film. Exposing a film to produce higher film densities will generally increase the contrast in the radiograph.

A typical film characteristic curve, which shows how a film responds to different amounts of radiation exposure, is shown to the right.  (More information on film characteristic curves is presented later in this section.) From the shape of the curves, it can be seen that when the film has not seen many photon interactions (which will result in a low film density) the slope of the curve is low. In this region of the curve, it takes a large change in exposure to produce a small change in film density. Therefore, the sensitivity of the film is relatively low. It can be seen that changing the log of the relative exposure from 0.75 to 1.4 only changes the film density from 0.20 to about 0.30. However, at film densities above 2.0, the slope of the characteristic curve for most films is at its maximum. In this region of the curve, a relatively small change in exposure will result in a relatively large change in film density. For example, changing the log of relative exposure from 2.4 to 2.6 would change the film density from 1.75 to 2.75. Therefore, the sensitivity of the film is high in this region of the curve. In general, the highest overall film density that can be conveniently viewed or digitized will have the highest level of contrast and contain the most useful information.
Lead screens in the thickness range of 0.004 to 0.015 inch typically reduce scatter radiation at energy levels below 150,000 volts. Above this point they will emit electrons to provide more exposure of the film to ionizing radiation, thus increasing the density and contrast of the radiograph.  Fluorescent screens produce visible light when exposed to radiation and this light further exposes the film and increases contrast.

























Radiograph Interpretasi - tuang
Tujuan utama pengujian radiografi coran adalah pengungkapan cacat yang mempengaruhi kekuatan produk. Tuang adalah bentuk produk yang sering menerima pemeriksaan radiografi karena banyak cacat yang dihasilkan oleh proses pengecoran yang volumetrik di alam, dan dengan demikian relatif mudah untuk mendeteksi dengan metode ini. Ini diskontinuitas tentu saja, terkait dengan pengecoran kekurangan proses, yang, jika dipahami dengan benar, dapat menyebabkan akurat menerima-menolak keputusan serta langkah-langkah perbaikan sesuai. Karena berbagai jenis dan ukuran cacat memiliki efek yang berbeda terhadap kinerja casting, adalah penting bahwa radiografer mampu mengidentifikasi jenis dan ukuran cacat. ASTM E155, Standar Radiografi coran telah diproduksi untuk membantu radiografer membuat penilaian yang lebih baik dari cacat ditemukan dalam komponen. Coran digunakan untuk menghasilkan radiograf standar telah secara destruktif dianalisis untuk mengkonfirmasi ukuran dan jenis diskontinuitas hadir. Berikut ini adalah deskripsi singkat dari jenis diskontinuitas yang paling umum termasuk dalam dokumen rontgen referensi yang ada (dalam jenis bergradasi atau sebagai ilustrasi tunggal).
INDIKASI RADIOGRAFIS UNTUK tuang
Porositas gas atau lubang pukulan disebabkan oleh akumulasi gas atau udara yang terperangkap oleh logam. Ini diskontinuitas biasanya rongga bulat halus berdinding dari bola, bentuknya memanjang atau diratakan. Jika sariawan tidak cukup tinggi untuk memberikan transfer panas yang dibutuhkan untuk memaksa gas atau udara keluar dari cetakan, gas atau udara akan terjebak sebagai logam cair mulai memperkuat. Blows juga bisa disebabkan oleh pasir yang terlalu baik, terlalu basah, atau pasir yang memiliki permeabilitas rendah sehingga gas tidak bisa lepas. Kadar air terlalu tinggi di pasir membuat sulit untuk membawa volume berlebihan uap air dari casting. Penyebab lain pukulan dapat dikaitkan dengan menggunakan sendok hijau, menggigil berkarat atau basah dan chaplets.
Pasir inklusi dan sampah adalah oksida non logam, yang muncul pada radiograf sebagai tidak teratur, bercak gelap. Ini berasal dari hancur bagian cetakan atau inti dinding dan / atau dari oksida (dibentuk pada mencair) yang belum skim off sebelum pengenalan logam ke gerbang cetakan. Kontrol yang cermat dari lelehan, holding time yang tepat dalam sendok dan menggelapkan dari lelehan selama menuangkan akan meminimalkan atau meniadakan sumber masalah.
Penyusutan adalah bentuk diskontinuitas yang muncul sebagai bintik-bintik gelap pada radiograf. Penyusutan mengasumsikan berbagai bentuk, tetapi dalam semua kasus itu terjadi karena logam cair menyusut seperti mengeras, dalam semua bagian dari pengecoran akhir. Penyusutan dihindari dengan memastikan bahwa volume pengecoran ini cukup diberi makan oleh anak tangga yang berkorban mempertahankan penyusutan. Penyusutan dalam berbagai bentuk dapat diakui oleh sejumlah karakteristik pada radiografi. Setidaknya ada empat jenis penyusutan: (1) rongga, (2) dendritik, (3) filamen, dan (4) jenis spons. Beberapa dokumen menunjuk jenis ini dengan angka, tanpa nama yang sebenarnya, untuk menghindari kemungkinan kesalahpahaman.
Rongga penyusutan muncul sebagai daerah dengan batas-batas bergerigi yang berbeda. Ini dapat diproduksi ketika logam membeku di antara dua aliran asli meleleh datang dari arah berlawanan untuk bergabung depan umum. Rongga penyusutan biasanya terjadi pada saat mencair hampir mencapai suhu pembekuan dan tidak ada sumber cairan tambahan untuk memberi makan kemungkinan gigi berlubang.


Penyusutan dendritik adalah distribusi garis yang sangat halus atau rongga memanjang kecil yang dapat bervariasi dalam kepadatan dan biasanya tidak berhubungan.
Penyusutan filamen biasanya terjadi sebagai struktur terus menerus baris terhubung atau cabang panjang variabel, lebar dan kepadatan, atau kadang-kadang sebagai jaringan.


Sponge penyusutan menunjukkan dirinya sebagai daerah tekstur berenda dengan garis menyebar, umumnya menuju pertengahan ketebalan bagian pengecoran berat. Sponge susut mungkin dendritik atau filamen penyusutan. Filamen spons penyusutan tampak lebih kabur karena diproyeksikan melalui lapisan yang relatif tebal antara diskontinuitas dan permukaan film.


Retak tipis (lurus atau bergerigi) diskontinuitas linear dibuang yang terjadi setelah mencair telah dipadatkan. Mereka umumnya muncul tunggal dan berasal di permukaan casting.
Dingin menutup umumnya muncul pada atau dekat permukaan logam cor sebagai hasil dari dua aliran pertemuan cair dan gagal untuk bersatu. Mereka mungkin muncul pada radiograf sebagai retak atau jahitan dengan tepi halus atau bulat.



Inklusi adalah bahan bukan logam dalam matriks logam sebaliknya padat. Mereka mungkin kurang atau lebih padat daripada paduan matriks dan akan muncul pada radiograf, masing-masing, sebagai indikasi gelap atau lebih terang. Jenis yang kedua lebih sering terjadi pada coran logam ringan.




Pergeseran inti menunjukkan dirinya sebagai variasi ketebalan bagian, biasanya pada pandangan radiografi mewakili bagian diametris berlawanan dari bagian pengecoran silinder.






Hot air mata linear dibuang indikasi yang mewakili patah tulang terbentuk dalam logam selama pemadatan karena kontraksi terhalang. Yang terakhir ini mungkin terjadi karena terlalu keras (benar-benar pantang menyerah) cetakan atau inti dinding. Efek air mata panas sebagai konsentrasi tegangan adalah sama dengan yang dari retak biasa, dan air mata panas biasanya kekurangan sistematis. Jika kekurangan diidentifikasi sebagai air mata panas di berjalan lebih besar dari tipe casting, perbaikan eksplisit dalam teknik pengecoran akan diperlukan.
Misruns muncul pada radiograf sebagai daerah padat menonjol dari dimensi variabel dengan garis halus pasti. Mereka sebagian besar acak dalam kejadian dan tidak mudah dihilangkan dengan tindakan khusus perbaikan dalam proses.
Bintik merupakan indikasi radiografi yang muncul sebagai daerah tidak jelas gambar lebih atau kurang padat. Kondisi ini adalah efek difraksi yang terjadi pada relatif jelas, tipis-bagian radiografi, paling sering dengan stainless steel austenitik. Bintik disebabkan oleh interaksi butir materi batas objek dengan sinar-X energi rendah (300 kV atau lebih rendah). Penerjemah berpengalaman salah dapat mempertimbangkan bintik sebagai indikasi kekurangan pengecoran tidak dapat diterima. Bahkan interpreter yang berpengalaman sering harus memeriksa kondisi dengan re-radiografi dari sudut yang sedikit berbeda sumber-film. Pergeseran bintik kemudian sangat terasa, sedangkan diskontinuitas pengecoran benar berubah hanya sedikit dalam penampilan.

Indikasi radiografi untuk Casting Lasan Perbaikan
Coran paduan paling umum memerlukan pengelasan baik dalam upgrade dari kondisi rusak atau bergabung ke bagian sistem lainnya. Hal ini terutama untuk alasan casting perbaikan bahwa deskripsi dari cacat pengelasan lebih umum disediakan di sini. Istilah muncul sebagai jenis indikasi dalam ASTM E390. Untuk informasi tambahan, lihat Uji tak rusak Handbook, Volume 3, Bagian 9 pada "Control Radiografi lasan."
Terak adalah bahan padat bukan logam terperangkap dalam logam las atau antara bahan las dan logam dasar. Radiografi, terak dapat muncul dalam berbagai bentuk, dari indikasi sempit panjang untuk indikasi lebar pendek, dan di berbagai kepadatan, dari abu-abu untuk sangat gelap.
Porositas adalah serangkaian kantong gas bulat atau void dalam logam las, dan umumnya silinder atau berbentuk elips.
Melemahkan adalah alur meleleh di logam dasar di tepi lasan dan kiri terisi oleh logam las. Ini merupakan konsentrasi tegangan yang sering harus diperbaiki, dan muncul sebagai indikasi gelap di ujung lasan.
Penetrasi yang tidak lengkap, seperti namanya, adalah kurangnya penetrasi las melalui ketebalan sendi (atau penetrasi yang kurang dari yang ditentukan). Hal ini terletak di pusat lasan dan lebar, indikasi linier.
Fusi tak sempurna adalah kurangnya fusi lengkap beberapa bagian dari logam di las bersama dengan logam yang berdekatan (baik dasar atau sebelumnya disimpan logam las). Pada radiografi, ini muncul sebagai, indikasi linier panjang tajam, terjadi di tengah dari sambungan las atau di fusion line.
Melt-through adalah ketidakteraturan cembung atau cekung (pada permukaan backing cincin, strip, akar menyatu atau logam dasar yang berbatasan) yang dihasilkan dari peleburan lengkap wilayah lokal tapi tanpa perkembangan kekosongan atau lubang terbuka. Pada radiograf, meleleh melalui umumnya muncul sebagai indikasi bulat atau elips.
Burn-melalui adalah batal atau lubang terbuka di cincin dukungan, strip, akar menyatu atau logam dasar yang berbatasan.
Pemogokan Arc merupakan indikasi dari zona terkena panas lokal atau perubahan kontur permukaan lasan jadi atau logam dasar yang berdekatan. Pemogokan busur disebabkan oleh panas yang dihasilkan ketika energi listrik lewat di antara permukaan las selesai atau logam dasar dan sumber arus.
Weld hujan rintik-rintik terjadi di busur atau las gas sebagai partikel logam yang dikeluarkan selama pengelasan. Partikel-partikel ini tidak membentuk bagian dari las yang sebenarnya. Weld hujan rintik-rintik muncul sebagai banyak kecil, indikasi silinder cahaya pada radiograf.
Tungsten inklusi biasanya lebih padat daripada partikel dasar-logam. Inklusi tungsten muncul gambar radiografi sangat ringan. Menerima / menolak keputusan untuk cacat ini umumnya didasarkan pada kriteria slag.
Oksidasi adalah kondisi permukaan yang dipanaskan selama pengelasan, sehingga pembentukan oksida pada permukaan, karena kurangnya sebagian atau lengkap pembersihan atmosfer las. Kondisi ini juga disebut sugaring.
Kondisi akar tepi menunjukkan penetrasi logam las ke ring dukungan atau ke celah antara cincin dukungan atau strip dan logam dasar. Ini muncul dalam radiografi sebagai tajam didefinisikan Film kepadatan transisi.
Akar melemahkan muncul sebagai alur intermiten atau terus-menerus di permukaan internal dari logam dasar, backing cincin atau strip sepanjang tepi akar las.
Kepadatan radiografi
Fotografi, radiografi atau film kepadatan adalah ukuran tingkat film gelap. Secara teknis itu harus disebut "kepadatan ditransmisikan" bila dikaitkan dengan film transparan-base karena itu adalah ukuran dari cahaya yang ditransmisikan melalui film. Kepadatan adalah unit logaritmik yang menggambarkan rasio dua pengukuran. Secara khusus, itu adalah log dari intensitas cahaya pada insiden film (I0) dengan intensitas cahaya yang ditransmisikan melalui film (It).

Mirip dengan desibel, dengan menggunakan log dari rasio memungkinkan rasio berbagai ukuran untuk digambarkan dengan menggunakan mudah untuk bekerja dengan angka. Tabel berikut menunjukkan hubungan antara jumlah cahaya yang ditransmisikan dan densitas film dihitung.
Transmitansi
(I0/It) Persen Transmitansi Film Density
Log (I0/It)
1,0 100% 0
0.1 10% 1
0,01 1% 2
0,001 0.1% 3
0,0001 0,01% 4
0,00001 0,001% 5
0.000001 0.0001% 6
0.0000001 0,00001% 7
Dari tabel ini, dapat dilihat bahwa pembacaan kepadatan 2.0 adalah hasil dari hanya satu persen dari insiden ringan sehingga melalui film. Dengan kepadatan 4,0 hanya 0,01% dari cahaya yang ditransmisikan mencapai sisi yang jauh dari film. Kode Industri dan standar biasanya memerlukan radiografi untuk memiliki kepadatan antara 2,0 dan 4,0 untuk melihat diterima dengan pemirsa film yang umum. Di atas 4.0, lampu sangat terang melihat diperlukan untuk evaluasi. Kontras dalam film meningkat dengan meningkatnya kepadatan, sehingga pada umumnya semakin tinggi kepadatan yang lebih baik. Ketika radiografi akan didigitalkan, kepadatan di atas 4.0 sering digunakan karena sistem digitalisasi dapat menangkap dan menampilkan kembali informasi mudah dilihat dari kepadatan sampai dengan 6.0.
Densitas film diukur dengan densitometer. Densitometer A hanya memiliki sensor fotolistrik yang mengukur jumlah cahaya yang ditularkan melalui sepotong film. Film ini ditempatkan antara sumber cahaya dan sensor dan pembacaan kerapatan dihasilkan oleh instrumen
Kontras radiografi
Seperti yang disebutkan pada halaman sebelumnya, kontras radiografi menggambarkan perbedaan densitas fotografi dalam radiograf. Kontras antara bagian yang berbeda dari gambar yang membentuk citra dan semakin besar kontras, fitur lebih terlihat menjadi. Kontras radiografi memiliki dua kontributor utama: kontras subjek dan detektor (film) kontras.
Kontras subjek
Kontras subjek adalah rasio intensitas radiasi yang ditransmisikan melalui berbagai bidang komponen sedang dievaluasi. Hal ini tergantung pada perbedaan penyerapan dalam komponen, panjang gelombang radiasi primer, dan intensitas dan distribusi radiasi sekunder akibat hamburan.
Ini seharusnya tidak mengejutkan bahwa perbedaan penyerapan dalam subjek akan mempengaruhi tingkat kontras dalam radiograf. Semakin besar perbedaan ketebalan atau kepadatan antara dua bidang subjek, semakin besar perbedaan densitas radiografi atau kontras. Namun, juga memungkinkan untuk radiograf topik tertentu dan menghasilkan dua radiografi memiliki tingkat kontras yang sama sekali berbeda. Membangkitkan x-ray menggunakan kilovoltage rendah umumnya akan menghasilkan radiograf dengan kontras tinggi. Hal ini terjadi karena energi radiasi rendah lebih mudah dilemahkan. Oleh karena itu, rasio foton yang ditularkan melalui daerah tebal dan tipis akan lebih besar dengan radiasi energi yang rendah. Ini pada gilirannya akan menghasilkan film yang terkena tingkat yang lebih besar dan lebih kecil di dua daerah.
Ada tradeoff, namun. Umumnya, sebagai kontras sensitivitas meningkat, lintang radiograf menurun. Lintang radiografi mengacu pada berbagai ketebalan material yang dapat dicitrakan Ini berarti bahwa lebih banyak wilayah ketebalan yang berbeda akan terlihat dalam gambar. Oleh karena itu, tujuannya adalah untuk menyeimbangkan kontras radiografi dan lintang sehingga ada cukup kontras untuk mengidentifikasi fitur yang menarik, tetapi juga untuk memastikan lintang cukup besar sehingga semua bidang minat dapat diperiksa dengan satu radiografi. Di bagian tebal dengan berbagai macam ketebalan, beberapa radiografi kemungkinan akan diperlukan untuk mendapatkan tingkat kepadatan yang diperlukan di semua bidang.
Kontras Film
Sebaliknya Film mengacu pada perbedaan kepadatan yang mengakibatkan karena jenis film yang digunakan, bagaimana itu terkena, dan bagaimana itu diproses. Karena ada detektor lain selain film ini bisa disebut kontras detektor, tetapi fokus di sini akan di film. Mengekspos film untuk menghasilkan kepadatan film yang lebih tinggi biasanya akan meningkatkan kontras dalam radiograf.
Sebuah kurva karakteristik film yang khas, yang menunjukkan bagaimana sebuah film merespon jumlah yang berbeda dari paparan radiasi, ditampilkan ke kanan. (Informasi lebih lanjut tentang kurva karakteristik film yang disajikan kemudian dalam bagian ini.) Dari bentuk kurva, dapat dilihat bahwa ketika film belum melihat banyak interaksi foton (yang akan menghasilkan densitas film rendah) kemiringan kurva rendah. Di wilayah ini kurva, dibutuhkan perubahan besar dalam paparan untuk menghasilkan perubahan kecil dalam densitas film. Oleh karena itu, kepekaan film ini relatif rendah. Hal ini dapat dilihat bahwa mengubah log relatif paparan 0,75-1,4 perubahan hanya kepadatan film dari 0,20 menjadi sekitar 0,30. Namun, pada kepadatan film yang di atas 2,0, kemiringan kurva karakteristik untuk kebanyakan film adalah pada maksimum. Di wilayah ini kurva, perubahan yang relatif kecil dalam eksposur akan mengakibatkan perubahan relatif besar dalam densitas film. Misalnya, mengubah log eksposur relatif 2,4-2,6 akan mengubah densitas film 1,75-2,75. Oleh karena itu, kepekaan film ini tinggi di wilayah ini kurva. Secara umum, tertinggi keseluruhan densitas film yang dapat dengan mudah dilihat atau digital akan memiliki tingkat tertinggi kontras dan berisi informasi yang paling berguna.
Layar utama dalam kisaran ketebalan 0,004-0,015 inci biasanya mengurangi radiasi menyebar pada tingkat energi bawah 150.000 volt. Di atas titik ini mereka akan memancarkan elektron untuk memberikan lebih banyak eksposur dari film terhadap radiasi pengion, sehingga meningkatkan kepadatan dan kontras radiograf. Layar neon menghasilkan cahaya terlihat bila terkena radiasi dan cahaya ini lebih mengekspos film dan meningkatkan






Jumat, 12 Juli 2013

INPECTION



INSPECTION

Professional adalah keterampilan yang didukung oleh referensi yang baku dan tertulis
Contoh : welding : WPS
Sifat utama untuk professional inspector :
  1. Kejujuran dibidang profesinya
  2. Mandiri
  3. Bertanggung jawab
  4. Teliti dan hati2
  5. Selalu mendokumentasi hasil kerjanya

Review document à untuk mengetahui masalah dan lingkup kerja serta referensi yang diacu
Survey à meninjau : lokasi, situasi, objek inspeksi, kondisi atau suasana dan temuan yang bersifat qualitative (outline atau garis besar)
Measurung / pengukuran à untuk mendapatkan temuan yang quantitative (aspek besaran / dimensi, jenis orientasi)
Detection à untuk mengungkap hal2 yang tersamar
Investigasi à penyelidikan tentang masalah (jenis, sebab, akibat)
Examination à menguji temuan untuk meyakinkan apakah temuan tersebut genuine atau false
Analyze (menganalisa) à          - Root cause (akar masalah)
                                                - Chemical composition dari temuan           
Disscussion

Insp

-         Process / production
Shut down / repair à seberapa jauh mempempengaruhi produktivitas dan system proses
-         Engineering / desaign
Apakah repair / penanggulangan  menyebabkan turn arround, debottle necking, renovation, refurbish (revitalizion)
Turn arround : penghentian total unit operasi
Debottle necking : penghilangan masalah yang timbul
Renovation : perbaikan menuju peningkatan
Refurbish : unit yang tidak beroperasi diperbaiki untuk dapat beroperasi
-         Mechanical / maintenance
Retification / penanggulangan à menyangkut man, manajer, equipment, material
-         Logistic / procurement
Sehubungan denga spare part, stock, pengadaan baru
-         Safety / environment / loss prevention
Sehubungan dengan aspek : safety, accidence, pollution
-         Finance
Sehubungan dengan budget / anggaran
-         Reporting









 



 

























 












RE : REFFERENCE TO
-         Sebaiknya semua tercakup di halaman pertama
-         Detail merupakan lampiran








Inspeksi, sketch untuk welding inspector

Gambar








Conclusion / kesimpulan :
-         Merupakan butir2 (Itemized)
-         Masing2 item mandiri (Self Expiantory)
-         Apa adanya (As It Is), Bukan Hearsay (Kata Orang)
-         Menjawab Judul (Tidak Menyimpang / Fokus)
-         Tidak Merekayasa, Inciminating / menyalah2kan, Framing / Memfitnah

Contoh :
a.       Kondisi kerja tidak aman
b.      Pekerja tidak menggunakan alat keselamatan personil yang memadai
c.       Tidak ada prosedur kerja yang jelas / baku
d.       Perbaikkan dilaksanakan secara Sub – Standart

RECOMMENDATION (Saran)
-         Harus itemized
-         Harus workable / dapat dilaksanakan
-         Harus efficient (tepat guna)
-         Harus effektif (berhasil guna)
-         Harus flexible (selalu dengan alternative)
-         Tidak melupakan aspek 5 (LIMA) Pisau Analisa :
·        Personal and community safety
·        Production safety
·        Structural safety
·        Financial safety
·        Environmental safety

INSPECTION

Q.C (Quality Control)
Mengendalikan mutu dengan workman ship secara operasional (menggunakan alat bantu / equipment) sesuai dengan persyaratan spesifikasi / standart yang diacu


Q.A (Quality Assurance)
Meyakinkan kembali secara managerial bahwa semua langkah Q.C telah dilaksanakan sesuai dengan persyaratan spesifikasi / standart yang diacu

Pendekatan Inspection
  1. Kondisi Objek Inspeksi
-         New And Cold
Equipment telah siap di fabrikasi  tetapi belum pernah dioperasikan
-         Corroded
Equipment telah pernah dioperasikan / sedang di operasikan


  1. Jenis Dan Tahap Pekerjaan
-         Pra Project *
-         Basic Design / Engineering *
-         Procurement à  untuk main contractor *
-         Contract Award à Main Contractor telah ditunjuk
-         Detail Engineering *
·        Contractor
·        Purchase Order
·        Requisition Sheet
·        Data Sheet
·        WPS / PQR
·        Inspection Plan
·        Schedule
·        Drawings

-         Procurement
·        Vendor Visit à Vendor List *              Menghasilkan
·        Bid Package                                                     - Fabricator
·        Invitation To Bid                                               - Manufacture
·        Aan Wijzing (Pre Bid Meeting)                         - Supplier
·        Site Visit                                                           - Sub Contractor
·        Bid Document & Bond                         - Consultant
·        Bid Review *
·        Award

-         Vendor Visit
·        Pre Inspection Meeting / Pre Fabrication Meeting
·        Inspection Plan
·        Hold Point
·        Final Test
·        Preshipment Inspection / Test



-         Commissioning & Start Up *
-         Performance Test *
-         Acceptance Test
-         Construction *
-         Mechanical Completion *
-         Care an Custady Transfer (serah terima equipment) *
-         Pre Commingssioning

NB : * Keterlibatan Welding Inspector

c. Diciplint yang dominant
    • Welding Inspector
    • Boiler Inspector
    • Plant Inspector
    • Statutory Inspector
    • Piping Inspector
    • Tank Inspector
    • NDT Inspector


Government / Policy / U.U                        











Oval: Consultant


Oval: OWNER






 


Dinas à mengawal U.U








 










Musuh2 Las

I.        Oksidasi
Oksida
 
Fe + O2 à Fe2O3


Suhu Tinggi
 
 



II. Metal Up Set
            Penggeliatan (Deformasi) metal akibat panas las


III. Cacat las
Visual / Surface : Sppaters, Porosity, Concavity, Pin Hole, Cold Lap, Crack, Undercut, Underfill, Excessive  Reinforcement, Widebead, High Low, Stop Start
Non Visual / Akar / Root : Porosity, Concavity, Excessive Penetration, Blow Hole, Excesswire, Incomplate Penetration, Undercut, Underfill, Crack
Internal : Keluarga Besar Slag Inclusion, Keluarga besar Porosity, Heavy Metal Inclusion, Crack

IV. Faktor Lain
-         Mekanis : Erossion / Abrasion
-         Fisik : Creep, Fatigue, Metal Dusting, Catastrophic
-         Structural : Carbide Formation, Ferrit < 5%    > 12%, Martensite Embrittlement, Cristal Growth
-         Corrosion : Bimetal, Stress Cracking, Liquid Metal

OXIDATION
Contoh  :  1. OAW (Oxy Acetylene Weld)
                        Calcium Carbide  (karbid)
                        CaC2 + H2O à C2H2 (Acetylene) + Ca (OH)2
                        C2H2 + O2 à CO2 + H2O + Flame
Gambar









2. SMAW (Shielded Metal Arc Welding)









Coating :
-         Menghasilkan asap
-         Menghasilkan uap metal
-         Menghasilkan gas
-         Menghasilkan slag
-         Menstabilkan busur
-         Menambah unsur Additive untuk meningkatkan kekuatan las

3. GTAW (Gas Tungsten Arc Welding)
     TIG (Tungsten Inert Gas Welding)
Gambar








4. GMAW (Gas Metal Arc Welding)
    MIG (Metal Inert Gas Weld)
    MAG (Metal Active Gas Weld)
Gambar







5. FCAW (Flux Care Arc Welding)
            Sama seperti GMAW hanya bedanya adalah pada electrode wirenya yang berongga & terisi flux
6. SAW (Submerged Arc Welding)
Gambar








Metal Up Set
Gambar










Deformasi :
-         Berubahnya bentuk & ukuran Assembly (pasangan) design las
-         Pengikatan untuk mencegah deformasi menghasilkan masalah baru (internal stress)
·        Thermal
·        Residu
·        Tegangan thermal
·        Tegangan sisa
·        Displacement
·        Tegangan geser

Cara pencegahan deformasi :
-         Penyetelan yang sempurna              dalam batas
Toleransi yang diizinkan
-         Design yang baik (memungkinkan memasukan panas yang uniform / seimbang)
-         Pengikatan / clamping
-         Pengelasan sesuai dengan WPS
-         Pengelasan sesuai sequence
-         Gunakan material dengan coefficient elongation yang relative rendah


CACAT LAS / WELD DEFECTS

Gambar












SPPATTER

  1. Kondisi cuaca lembab / lingkungan
  2. Elektroda lembab
  3. Angin masuk / udara ke kolam las (angin kencang)
  4. Busur terlalu panjang
  5. Salah polaritas
  6. Salah jenis arus
  7. Ampere kapping terlalu tinggi
  8. lapisan galvanis tidak digerinda
  9. kampuh kotor
Akibat :
-         Tampak kotor / jelek / buruk
-         Mengawali karat permukaan
Penanggulangan :
Cukup di chipping / di pahat / dikikir kasar & tidak boleh digerinda

POROSITY

Sebab :
Sama dengan Sppatter terbentuk gas sewaktu pengelasan (H2, CO, CO2, NO2, SO2)
Akibat :
-         Tampak buruk
-         Mengawali karat permukaan
-          Melemahkan sambungan
Penanggulangan :
-         Digerinda / gouging sampai cacat hilang
-         Isi ulang sesuai dengan WPS

PIN HOLE

Sebab :
-         Terjadi gas sewaktu pengelasan (H2, CO, CO2)
-         Udara masuk kedalam kolam las
-         Khusus dalam pengelasan SS dilaksanakan di udara terbukantanpa pelindung
Akibat :
Sambungan melemah dilokasi cacat (kemungkinan bocor tinggi)
Penanggulangan :
-         Gouging sampai cacat hilang dilokasi cacat
-         Isi ulang sesuai WPS
-         Diupayakan jangan sampai jenis cacat terulang

CONCAVITY

Sebab :
-         Bukaan kampuh terlalu lebar
-         Elektroda terlalu kecil
-         Ampere chapping terlalu tinggi
-         Speed chipping terlalu tinggi
-         Chipping belum selesai
Akibat :
-         Tampak jelek
-         Terjadi Displesment Stress (Tegangan Geser) yang berpotensi retak
-         Melemahkan sambungan,  -  Mengawali karat permukaan
Penanggulangan :
Isi hingga chipping penuh sesuai WPS

COLD LAP

Sebab :
-         Suhu metal terlalu rendah
-         Ayunan tidak beraturan
-         Permukaan material kotor
-         Suhu ampere chipping terlalu rendah
Akibat :
Timbul kecurigaan bahwa juru las gemar menggunakan ampere rendah sehingga mungkin akan terjadi Incomplete Fusion & Internal Cold Lap (cacat siluman)
Penanggulangan :
-         Akibat kecurigaan tidak terbukti maka cold lap  cukup digerinda saja uniform dengan bagian  lain
-         Apabila kecurigaan terbukti maka sambungan las yang bermasalah harus dibongkar ulang, dikampuh & dilas kembali sesuai WPS
-         Juru las yang bermasalah harus diperingatkan agar tidak melakukan kesalahan yang sama


CRACK

Sebab :
  1. Hardening / embrittlement yang menghasilkan martensit / bainit
  2. Crystal growth pada fusion zone
  3. Reheat crack (incompability crack) / ketidakcocokan material
  4. Solidification / surinkage (pembekuan / pengerutan)
  5. Kandungan ferrite <5%, >12% pada Stainless Steel
  6. Notch (takikan)
  7. Embrittlement oleh caustic (NaOH) CL2 (chloride), S (sulphur), H2 (hydrogen)
  8. Carbon equivalent >0,41%
  9. Pembuangan tegangan (stress relief)
  10. Liquetion (belum diketemukan penyebabnya)
  11. Hydrogen attck (gas methane)
  12. Hydrogen blister (intrusi H Nascent)

Gambar










BLISTER

Gambar









HYDROGEN ATTCK

Gambar









Akibat :
Fatal
Penanggulangan :
-         Buat F.A / analisa kegagalan untuk mengetahui secara tepat akar permasalahannya
-         Bor ujung2 retak agar tidak menjalar
-         Gerinda / Gouging sehingga retak hilang
-         Las sesuai dengan WPS
Catatan :
-         Retak didalam kampuh, cukup membongkar kampuh & dilas ulang
-         Retak diluar kampuh harus mengganti seluruh material dengan yang baru
-         Pergantian dapat sebagian / menyeluruh tergantung persetujuan Owner

    1. Insert Plat (penggantian salah satu bagian)
    2. Jika owner tidak mengijinkan ganti seluruhnya












KELEMAHAN RADIOGRAPHY

Gambar









TRICK 

Untuk memperkirakan terjadinya Incomplete Fusion (I.F), Internal Cold Lap (I.C.L), Under Bead Crack ( U.B.C)
  1. Lingkungan pengelasan lembab / basah
  2. Mesin las otomatis
  3. Welder tidak qualified
  4. Pengelasan tidak menggunakkan WPS
 Gambar







KLASIFIKASI CACAT
1.      Yaitu semua jenis cacat yang berada dalam batas toleransi yang diijinkan kecuali retak
2.       Berbahaya terdiri dari semua jenis Crack, IP, Incomplete Fille, Execive Reinfocement, Wide Bead, disebut berbahaya karena cacat, dapat berkembang menjadi kegagalan total / fatal
3.      Amat berbahaya yaitu IF, ICL, & UBC disebut sangat berbahaya karena sulit / tidak dapat di X –Ray

EXCESIVE REINFORCEMENT

Sebab :
-         Suhu metal terlalu rendah
-         Ampere chapping terlalu rendah
-         Speed chapping terlalu rendah
-         Busur terlalu pendek
Akibat :
-         Tampak buruk karena terlalu menonjol
-         Tidak efisien
-         Timbul kecurigaan juru las gemar menggunakan ampere rendah sehingga terjadinya kemungkinan IF, IL, & UBC terlalu besar
Penanggulangan :
-         Jika kecurigaan tidak terbukti jalur las cukup digerinda sehingga reinforcement berbentuk wajar
-         Jika kecurigaan terbukti seluruh sambungan las yang bermasalah dibongkar, dikampuh ulang & dilas sesuai dengan WPS
-         Juru las yang bermasalah diperingatkan

UNDERCUT

Sebab :
-         Suhu metal terlalu tinggi
-         Ampere chapping terlalu tinggi
Akibat :
-         Timbul displacement stress / tegangan geser yang berpotensi retak
-         Mengawali karat permukaan
-         Jika berlebihan melemahkan sambungan

Penanggulangan :
Cukup di brush dan diisi dengan Stringer (String)

HIGH LOW

Gambar








A = Misaligment (salah stel)
B
C             Unaviodable (tak terelakkan)
D

High low max
t ≤ ¼ “ à 1/16 “
t ¼ ” < t ≤ 1/8 “
t 1/8 “ < t ≤ 2” à 3/16”
t 5/8 “ < t ≥ 2 “ à ¼ “


Sebab :
-         Misaligment
-         Perbedaan tebal atau diameter
Akibat :
-         Timbul displacement stress / tegangan geser yang berpotensi retak
-         Mengawali erosi abrasi
-         Menyebabkan Incomplete Fill yang berpotensi retak
Penanggulangan :
Lihat gambar

Gambar



























EXECSIVE PENETRATION

Sebab :
  1. Gap terlalu besar
  2. Gap tidak uniform
  3. Elektroda terlalu kecil
  4. Ampere root terlalu kecil
  5. Speed root terlalu rendah
  6. Elektroda terlalu dalam
  7. Reading hasil las tidak benar (mesin las tidak di kalibrasi)
Akibat :
-         Menghancurkan PIG (sarana pembersih pipa)
-         Mengawali erosi abrasi
-         Menghasilkan Notch yang berpotensi retak
Penanggulangan :
-         Gouging sampai tembus
-         Kampuh ulang, stel ulang, dan dilas sesuai WPS

INCOMPLETE PENETRATION

Sebab :
-         Gap terlalu rapat
-         Gap tidak uniform
-         Deformasi waktu penyetelan
-         Ampere naik turun
-         Posisi elektroda naik turun
Akibat :
-         Timbul 2 buah Notch yang berpotensi retak
-         Stress corrosion cracking disebabkan oleh CL2 &NaOH
-         Mengawali erosi abrasi
Penanggulangan :
Gouging sampai ke akar pada lokasi cacat, las ulang sesuai WPS
Catatan :
Gouging harus memperhatikan gap jangan terlalu lebar

ROOT CONCAVITY


Sebab :
-         Gap terlalu lebar
-         Ampere root terlalu tinggi
-         Speed root terlalu tinggi
-         Khusus untuk GTAW pengelasan root dilaksanakan 2 kali
Khusus untuk pengelasan GTAW welder ragu2 apakah root telah penuh atau belum, kemudian welder mengelas ulang diatas root yang telah ada, akibat ampere yang tinggi (400A) mebyebabkan root yang lama mencair kembali & tertarik gaya kapiler keatas (suct up) akibatnya root menjadi cekung
Akibat:
-         Melemahkan sambungan
-         Mengawali erosi abrasi
-         Terjadi displacement stress / tegangan geser yang berpotensi retak
-         Timbul SCC akibat NaOH pada saluran air ketel (caustic embrittlement)
Penanggulangan :
Gouging sampai akar, dikampuh & di stel ulang & dilas sesuai dengan WPS

Catatan :
Untuk cacat yang pendek gouging harus mengupayakan agar gap tidak terlalu besar

ROOT UNDERCUT


Sebab :
-         Suhu metal terlalu tinggi
-         Ampere root terlalu tinggi
-         Root face terlalu sempit / kecil
Akibat :
Liat Root Concavity
Penanggulangan :
Gouging sampai akar, kampuh ulang & stel ulang, las kembali sesuai WPS
Catatan :
Untuk cacat ukuran yang pendek gouging diupayakan gap tidak terlalu besar

 ROOT UNDERFILL


Sebab :
-         Suhu metal terlalu rendah
-         Ampere naik turun
-         Root face kotor
-         High Low
Akibat :
-         Timbul notch yang berpotensi retak
-         Mengawali erosi abrasi
-         SCC (CL2, NaOH)
Penanggulangan :
Gouging sampai ke akar, kampuh ulang & stel ulang, las kembali sesuai WPS

BLOW HOLE (BURNT THROUGH) (TERBAKAR TEMBUS)
Sebab :
-         Gap tidak uniform
-         Ampere naik turun
-         Elektroda naik turun
Akibat :
-         Pada lokasi cacat terbentuk displacement stress yang berpotensi retak
-         Mengawali erosi abrasi
Penanggulangan :
Gouging dilokasi cacat sampai akar (diupayakan gap tidak terlalu besar) & di las ulang sesuai WPS

EXCESS WIRE

Khusus GMAW & FCAW
Sebab :
-         Elektroda wire berkarat
-         Wire guide tersendat2
Akibat :
-         Terjadi tonjolan2 wire yang tidak sempat mencair pada akar, tonjolan tersebut terjadi di notch yang berpotensi retak
-         Mengawali erosi abrasi
-         Menghancurkan PIG
Penanggulangan :
Gouging sampai akar dilokasi cacat diupayakan agar gap tidak terlalu lebar, las ulang sesuai WPS

Gambar















SLAG INCLUSION


Sebab :
-         Juru las mengelas cenderung dengan ampere rendah
-         Sarana pembersih tidak lengkap / tidak ada
-         Juru las malas membersihkan 
Akibat :
Hingga tingkat tertentu slag inclusion di reject
Penanggulangan :
Di gerinda / di gouging hingga cacat hilang & las ulang sesuai WPS

INTERNAL POROSITY

Gambar












Sebab :
Lihat surface porosity
Akibat :
Lihat surface porosity
Penanggulangan :
Gerinda / gouging sampai cacat hilang di las sesuai dengan WPS (repair)

HEAVY METAL INCLUSION

Hanya terjadi pada GTAW
Sebab :
Polaritas terbalik (polaritas lurus)
Akibat :
Terjadi overheating diujung elektroda yang menyebabkan elektroda berkeping2
Catatan :
-         Polaritas lurus menyebabkan pendinginan electron diujung elektroda sehingga elektroda selalu dalam kondisi dingin !
-         Secara tidak sengaja elektroda tercelup kedalam kolam las mengakibatkan patah2 & masuk kedalam kolam
-         Warnanya putih tajam
-         Tidak terlalu berpengaruh pada kekuatan las
Tidak perlu ditanggulangi kecuali pada pengelasan Boiler



PENGELASAN CAST IRON 


CAST IRON
-         Gram
-         Malleable            Dapat di las
-         Nodular
-        
Tidak dapat dilas
 
White                          
-         Ni Riresist

Tahap Repair Crack
1.      FA (failure analisis) untuk menentukan root cause secara akurat
2.      Bor kedua ujung crack untuk mencegah propagazi
3.      Gauge crack hingga akar las(dilarang digerinda, karena gerinda justru menyebar luaskan serapan minyak di dalam crack) cast iron bersifat absorban terhadap minyak hingga sedalam kurang lebih 3mm kedalam material
Gambar












  1. Persiapkan kampuh dengan gerinda dengan detail sebagai berikut:
Gambar





  1. Pengelasan dingin
    1. Gunakan elektroda kecil, diameter 1/16 inch, ampere rendah(maksimal 90 ampere)
    2. Pengelelasan sebagai berikut:
Gambar








Elektroda    =         High Nikel
                              E – Ni Fe CL
                              E – Ni CL
    1. Segera setelah pengelasan selesai di peening(Posisi hammer miring), langsung diselimuti dengan silicon fibre untuk slow cooling
Gambar











Musuh las Cast Iron adalah  :  Ferro carbide yang getas(Fe23C6)





Repair Cr Mo Steel Shaft (Poros)
Gambar










Cara Repair :
  1. Bersihkan bagian yang aus dengan wire brush (motor driven)
  2. Panaskan seluruh shaft sehingga kurang lebih 100 derajat C
  3. Pengelasan dingin teknik stringer longitudinal shaft menggunakan electrode E–308L–18               (Austenitic – SS) dengan ampere 70 – 80 A. diameter 1/16”
  4. Suhu interpass max 100 derajat C
  5. Sebagaimana halnya cast iron pengelasan juga menggunakan teknik mundur sepanjang 3 cm setiap pengelasan
  6. Pengelasan dengan sequence A-B, C-D, E-F secara bersebrangan
  7. Setelah pengelasan dilaksanakan slow cooling

TRICK JURU LAS

Gambar














Cepat didinginkan oleh suatu metal sekelilingnya (quenching) à martensit lokal  (keras/getas) à retak kecil
Arc Strike adalah cara pengambilan api yang salah dengan menorehkan elektroda pada kampuh dan dalam kampuh mengakibatkan luka dengan heat input kecil dan sekejap yang kemudian terdinginkan mendadak oleh suhu metal sekeliling (quenching) sehingga terbentuk martensit local martensit ini akan mengawali retak yang kecil menjadi retak besar. Hal ini berbahaya karena dapat menimbulkan ledakan. Pengambilan api boleh dilaksanakan didalam kampuh keseluruhannya karena kemudian akan tertutup las.
Gambar











Cu selalu incomplatable terhadap baja (instrusi berlaku sebagai retak)
Gambar


































Prakiraan apakah pengelasan dua jenis stainless steel yang berbeda ini menghasilkan retak panas atau tidak
X2 Cr Ni  12 (C = 0,030, Cr  12, Ni 07) dengan X2 Cr Mn  Ni  N 17 – 7 -5 (C  0,15, Cr  18, Ni 07, Mn 8, Cr 19,5, Ni 10) dengan las SMAW
Contoh gambar ada digrafik




































































R = 25 + 3 = 28
D = 56
Luas lingkaran
= ¼ . 3,14 . (56)²
= ¼ . 3,14 . 3136
= 9847, 04 / 4
= 2461,76 mm²

Luas lingkaran = 2461,76 mm²
Jadi luas juring
70 / 360 x 2461,76 = 478,67mm²

Luas penampang melintang las
= 478,67 + 2,5 = 481,17 mm²
Isi kampuh
= 481,17 x 1000 = 481170 mm² = 0,481 L
Jika berat jenis = 7,85 à berat bahan las dalam kampuh = 0,481 x 7,85 = 3,77 Kg
Jika penetrasi ± 10% dari isi kampuh maka berat jalur las 1,1 x 3,77 Kg = 4,14 Kg
Jika berat elektroda yang terkonsumsi = 3 Kg, maka dilusinya =  4,14 – 3  x 100% = 27,2%
                                                                                                            4,14

Misalkan elektroda yang terkonsumsi = 20 batang, kita ambil 20 batang elektroda baru dikupas dan ditimbang
= ……. xKg puntung elektroda yang tersisa
Gambar 



 
                          20 batang dikupas dan ditimbang = …….yKg


Jadi berat elektroda yang terkonsumsi = (x – y)…………..Kg












TACK WELD & FILLET WELD

Ampere rendah à Countour Convex (cembung)
Ampere sedang à Countour flat / datar
Ampere tinggi  à Countour Concave (cekung)
















































Tack Weld (las kunci)
-         Harus dilaksanakan oleh welder yang bersertifikat dan sesuai dengan WPS
-         Tack weld yang dilas oleh welder yang bersertifikat dapat dilebur dengan akar las apabila tack weld didalam kampuh
-         Tack weld yang dibuat bukan oleh welder yang bersertifikat dan tidak sesuai dengan WPS harus dibuang sebelum dilewati akar las

Toe Crack

Toe crack terjadi dalam beberapa detik saja dan selalu tembus
Toe crack termasuk retak dingin yang terjadi pada suhu kamar hingga 300 derajat C pada 0 – 48 jam setelah pengelasan (retak lambat)

POSISI PENGELASAN

Untuk Kualifikasi


I.        Butt Weld Pelat

1G  Flat (datar)
Gambar







2G  Horizontal







3G  Vertical







4G Overhead










II. Butt Weld Pipa

1G  Pipa berputar









2G  Horizontal (Pipa fix)









5G  Pipa fix











6G  Pipa fix









6GR (Restriction plate)











III. Filler Weld Pelat

1F  (Flat)









2F  (Horizontal)








 3F (Vertical)









4F  (Overhead)












IV. Fillet Weld Pipa

1F








2FR (Rotated)








2F (Horizontal)









2F (Fix)









4F (Overhead)












SIMBUL LAS

















Butt Joint






















Single Bevel Groove












Double Bevel Groove












Single – J Groove










Double – J Groove

















Single – U Groove













Single – U Groove